Guru PPPK atau Bukan, Tetaplah Guru

  • Whatsapp
Siti Umaenah S.Ab, Guru SDN Setrajaya Pandeglang, Banten

Chibernews.com, Pandeglang Banten – Pada Jumat, 8 oktober 2021 lalu saat pengumuman kelulusan para peserta seleksi ASN PPPK Guru tahap 1 beragam respon saat hasil kelulusan terpampang di akun SSCASN masing-masing peserta.

Senyum bahagia pun menghiasi wajah para peserta yang lolos, tak jarang ada tangis bahagia pula mewarnai. Juga terlihat adegan Saling berpelukan dengan sesama rekan seprofesi di sekolah.

Bacaan Lainnya

Seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang digelar secara serentak di Indonesia rupanya telah menyisakan sekelumit kisah pilu di Kabupaten Pandeglang, Banten.

Para guru honorer yang awalnya telah dinyatakan lulus passing grade atau nilai batas minimal saat tes, ternyata malah tak mendapatkan kuota untuk PPPK.

“Alhamdulillah yaa Allah saya lulus..,” ucap salah seorang guru seraya bersujud mencium lantai kelas, sebagai ungkapan syukur atas kelulusannya.

Bagi peserta yang tak lolos, gurat kekecewaan nampak tergambar jelas di wajah mereka saat melihat hasil pengumuman di akun masing-masing yang menyatakan tidak lolos. Besar harapan mereka, terutama para guru honorer yang telah mengabdi selama belasan dan puluhan tahun untuk bisa berubah posisi menjadi Guru PPPK pada 2021 ini. Air mata kesedihan dan keluhan mengiringi kekecewaan hati.

“ Bikin lemes jadi patah semangat jadinya.” ucap salah seorang guru seraya duduk lesu sambil menatap layar ponsel pintarnya, bibirnya di tekuk dan dahinya berkerut dengan mendung di wajah dan air mata tergenang di pelupuk mata.

Saya termasuk peserta yang mengikuti tes seleksi PPPK guru 2021. Ini merupakan pengalaman pertama bagi saya. Saat membuat akun SSCASN atau mendaftar dan membuat resume, ada sedikit keraguan di hati karena ijazah saya bukan dari pendidikan. Namun dengan niat baik dan bismillah saya memberanikan diri mendaftarkan diri pada tes seleksi ASN 2021.

Awalnya saya hendak memilih formasi umum, yang di dalamnya terdapat formasi di instansi pemerintahan yang bisa saya pilih dan sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, yaitu administrasi bisnis.

Namun saya urung memilih formasi di instansi dengan pertimbagnan mungkin di instansi pun masih banyak honorer yang bekerja dan mungkin kecil kesempatan saya lolos nantinya.

Maka saya pilih formasi guru kelas umum dan saat ada nama sekolah dasar tempat saya sehari-hari beraktifitas dengan rasa percaya diri saya pilih formasi tersebut. Karena niat saya betul-betul ingin mengabdi untuk negri, dimulai dari tanah kelahiran sendiri. Mendidik anak-anak saudara dan tetangga yang tinggal di sekitar sekolah.

Saat meng-uplod ijazah yang saya miliki ada rasa kecil hati, lagi-lagi karena ketidak sesuaian latar pendidikan tadi. Tapi lillahi ta’ala, saya belajar sungguh- sungguh dan niat mengabdi dengan tulus, saya input no seri ijazah dan setelah melengkapi form pendaftaran akhirnya resume selesai, kita memiliki daftar akun dan setelah lolos seleksi administrasi saya memiliki kartu peserta.

Saat memulai pendaftaran saya meminta doa dari keluarga terdekat, kedua orang tua mendukung penuh begitu pula suami. Saya kecup kening anak-anak dan meminta doa juga dari mereka. Kepada Kepala Sekolah dan guru-guru senior di sekolah demikian pula, wujud penghormatan saya meminta doa dan dukungan mereka. Sehingga Alhamdulillah saya lolos seleksi administrasi dan lolos seleksi ASN P3K guru tahap 1 dan mengisi formasi.

Awalnya saya tidak percaya, ini seperti mimpi indah dan tidak mungkin. Tapi kembali pada kekuasaan Allah, kunfayakun… apapun yang menurut manusia mustahil pasti mungkin terjadi jika allah sudah menghendaki.

Saya cuma seorang Siti Umaenah, S.Ab bukan siapa-siapa, terkadang saya merasa seperti butiran debu di tengah dunia pendidikan. Pengalaman dan keilmuan saya tentang pendidikan tentu jauh dibandingkan kemampuan yang bapak ibu guru lain miliki, yang sudah mengabdi belasan atau puluhan tahun.

Namun dari tulisan ini saya ingin menebar kebaikan atau energi positif. Saya berharap bapak ibu guru yang dinyatakan belum lolos pada seleksi tahap 1 bisa tetap optimis dan melaksanakan rutinitas seperti biasanya di sekolah, jangan sampai karena pengumuman tidak lolos tahap 1 menjadikan bapak ibu patah semangat dan mengabaikan kewajiban di sekolah.

Selama ini bapak ibu di panggil guru oleh anak-anak dan oleh masyarakat. Mereka tidak memanggil bapak guru PNS atau ibu guru honorer, tapi hanya memanggil guru. Jadi apapun status kita PNS atau Honorer, guru tetaplah guru yang para murid tunggu kehadirannya di kelas. Yang membimbing mereka membaca dan menulis. Sungguh mulia jasa bapak ibu guru, menebar kebaikan di dunia dan insyaallah menuai pahala di akhirat kelak.

Saya ingin bapak ibu guru yang belum lulus berfikir, “Tuh anak kemarin sore aja bisa lulus masa saya gagal, saya akan berusaha lebih baik lagi di tahap ke2 dan harus lulus. Saya pasti lulus!”

Saat saya mengikuti tes ujian kompetensi P3K dan mengisi soal-soal yang terdiri dari Kompetensi ManaJeral, Kompetensi Teknik, Kompetensi Sosio Kultural, dan Wawancara. Semua sistim jawaban tinggal pilih A,B,C,D atau E masing-masing jawaban memiliki nilai atau bobot tertentu.

Soal-soal tersebut bukan hanya tentang teori pendidikan atau pedagogik semata tetapi juga kemampuan seorang guru di kelas serta profesi guru sebagai tenaga kerja atau pegawai yang tentunya memiliki atasan yaitu kepala sekolah dan seorang guru yang juga adalah bagian dari masyarakat dan budaya.

Jadi ujian tersebut bersifat kompleks. Karena pasti pemerintah menginginkan mendapatkan guru PPPK yang betul-betul berkompetensi bukan hanya di kelas tetapi juga di tengah masyarakat.

Agar tidak terlalu sedih dan bisa menerima kenyataan (tidak lolos tahap 1 tapi besar harapan bisa lolos tahap2) maka saran saya bapak ibu introspeksi diri. Sudahkah selama ini menjadi guru yang baik di kelas? Menerapkan kedisplinan pada diri sendiri juga para murid? Menerapkan pendidikan karakter yang baik bagi diri sendiri serta siswa di kelas? Sudahkan bersikap santun kepada siswa, sesama rekan guru serta masyarakat sekitar. Jangan sampai kita sombong dengan seragam Pdh (Pakaian dinas harian) merasa diri paling pintar dan paling benar. Tapi melalaikan kewajiban 6 hari mengajar di sekolah, membimbing siswa dengan menerapkan pendidikan karakter dan ramah anak di sekolah.

Bercerminlah, dan bicaralah pantaskan saya gagal menjadi ASN PPPK guru? atau layakkah saya menjadi ASN PPPK guru?.

Penulis Siti Umaenah S.Ab ( 32) adalah lulusan SMKN 1 Pandeglang (2008), LP3I Cilegon ( 2011), STIA-Banten ( 2013). Pernah bekerja di PT. MAAKUTHARI Global (2009-2011) PT, Krakatau Engineering (2012-2013), Sekolah Peradaban Cilegon (2014), PT. Mitra Cahaya Bersama(2015-2016) dan pada (2018 hingga sekarang) bekerja sebagai Guru di SDN Setrajaya Pandeglang, Banten

Pandeglang 23 Oktober 2021

*(Jaelani/Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *