Pegawainya Terjaring OTT Polda Banten hingga 2 jadi Tersangka, Kepala BPN Lebak Buka Suara

  • Whatsapp
Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Lebak

Chibernews.com, Lebak – Sempat membuat geger dan viral dunia maya serta media online terkait adanya operasi tangkap tangan (OTT) terhadap empat oknum pegawai di Kantor Agraria dan Tata Ruang Badan Pertanahan Nasional (ATR BPN) dan satu oknum lurah di Kabupaten Lebak pada Jumat (12/11) lalu.

Kejadian ini membuat institusi di Pemerintahan Lebak sangat menyesalkan salah satunya dari BPN Lebak sendiri sebagaimana disampaikan oleh Agus Sutrisno, Kepala BPN Lebak bahwa hal seperti ini yang membuat institusi kantor yang dia pimpin tercoreng nama baiknya.

Bacaan Lainnya

Apalagai pada kenyataanya, segala yang menyimpang dari peraturan dan prosedur tentu akan berlawanan dengan hukum.

Agus sendiri sangat menyesalkan sekaligus sedih terhadap ulah pegawainya, ia pastikan untuk ke depan akan memperbaiki kinerja agar lebih baik lagi. “Dengan kejadian ini justeru saya sangat menyesal dan sedih,”ujarnya kepada chibernews.com saat dihubungi Minggu, (14/11).

Untuk penjelasan lengkap terkait siapa saja yang ditetapkan tersangka Agus juga belum mengetahui secara pastinya. “Saya belum dapat informasi terkait penetapannya apakah yang empat orang itu telah dinaikin statusnya,” katanya.

Dia berharap dengan kejadian ini semoga tidak akan terulang lagi. “Saya berharap kejadian ini tidak terjadi lagi. Untuk itu kami akan perbaiki kinerja layanan kami sehingga menjadi lebih baik,”kata Agus penuh harap.

Sementara menurut keterangan Polda Banten dalam siaran pers yang diterima chibernews pihaknya telah menetapkan dua tersangka dari empat dan satu orang Lurah yang terjaring OTT beberapa hari lalu. Selain itu, telah diamankan dan juga telah diperiksa oleh penyidik.

Kabid Humas Polda Banten AKBP Shinto Silitonga mengatakan penyidik Ditreskrimsus Polda Banten telah secara intens melakukan pemeriksaan terhadap 8 orang saksi.

Polisi melakukan penggeledahan di Kantor BPN Lebak

Kemudian Dirreskrimsus Polda Banten, KBP Dedi Prasetyo selaku penyidik telah menyita tiga amplop berisi uang senilai Rp36 juta, uang ini diketahui merupakan bagian dari total uang yang diminta kepada korban untuk pengurusan sertifikat tanah.

“Ditemukan 3 amplop berisi uang Rp36 juta dalam OTT, diketahui uang tersebut merupakan bagian dari sejumlah uang yang diminta tersangka,” katanya.

Penyidik Ditreskrimsus juga melakukan penyitaan terhadap beberapa unit handphone, DVR CCTV dan beberapa berkas pengajuan pengukuran tanah, bahkan beberapa ruang kerja di Kantor BPN Lebak juga disegel dengan police line untuk kepentingan penyidikan.

Berdasarkan fakta-fakta hukum yang telah ditemukan, penyidik kemudian melakukan gelar perkara dan menetapkan 2 tersangka yaitu RY (50) dan PR (41), keduanya sebagai staf pada Kantor BPN Lebak.

Penyidik menerapkan persangkaan Pasal 12 huruf e Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yaitu tindak pidana bagi penyelenggara negara yang menyalahgunakan kekuasaannya dengan menguntungkan diri sendiri atau orang lain, memaksa seseorang memberikan sesuatu untukmengerjakan sesuatu dengan ancaman 4-20 tahun penjara dan denda Rp200 juta hingga Rp1 miliar.

“Atas perbuatannya para pelaku dikenakan Pasal 12 huruf e UU Nomor 20 Tahun 2001, dengan ancaman minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun penjara,” kata Dedi.

Terhadap para tersangka telah dilakukan penahanan sejak Sabtu (13/11) malam selama 20 hari ke depan di Polda Banten. *(Firmansyah)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *